Alam taro kaifa fa’alaa rabbuka bi ashhaabil fiil
Alam yaj’al kaidahum fii tahdlil ?
Wa arsalna ‘alaihim thoiron abaabil.
Tarmihim bi hijaratim min sijjil.
Fa ja’alahum ka ashfim ma’kul.
|
|
|
|
|
|
||
|
1
|
|
|||||
|
|
(QS. 105:1) ::Terjemahan::
::TAFSIR::
::Asbabun
Nuzul::.....[English] ::Translation::
::TAFSIR:: ::Ibn
Kathir::
|
|||||
|
2
|
|
|||||
|
|
(QS. 105:2) ::Terjemahan::
::TAFSIR::
::Asbabun
Nuzul::.....[English] ::Translation::
::TAFSIR:: ::Ibn
Kathir::
|
|||||
|
3
|
|
|||||
|
|
(QS. 105:3) ::Terjemahan::
::TAFSIR::
::Asbabun
Nuzul::.....[English] ::Translation::
::TAFSIR:: ::Ibn
Kathir::
|
|||||
|
4
|
|
|||||
|
|
(QS. 105:4) ::Terjemahan::
::TAFSIR::
::Asbabun
Nuzul::.....[English] ::Translation::
::TAFSIR:: ::Ibn
Kathir::
|
|||||
|
5
|
|
|||||
|
|
(QS. 105:5) ::Terjemahan::
::TAFSIR::
::Asbabun
Nuzul::.....[English] ::Translation::
::TAFSIR:: ::Ibn
Kathir::
|
|||||
Hari itu, Abrahah berniat menyerang Ka’bah dan hari itu
pulalah Abraha sedang memberikan pelajaran besar pada manusia. Kisah Abraha dan
gajah-gajahnya diabadikan secara utuh dalam surat al Fiil. Inilah kisah
satu-satunya pendeta yang paling fenomenal dalam sejarah. Kisah Abraha banyak
memberi transformasi nilai kekuasaan dan penegasan yang dibangun oleh Abraha
sebagai penguasa dan penegas kekuasaan sebenarnya, Allah swt.
Kisah Abraha ini sebenarnya berasal dari konflik yang
terbangun Nasrani dan Yahudi. Konflik ini bisa dikatakan murni sebagai konflik
agama karena yang mendasari adalah sebuah ekspansi religi. Meski dalam
pelaksanaan ekspansi tersebut lebih menggunakan cara militeristik daripada cara
yang lebih humanis. Rasul Muhammad memang melakukan ekspansi besar-besaran saat
menyebarkan Islam, tetapi Rasul lebih dulu mengawali ekspansi dengan cara-cara
humanis semisal mengirim surat, berkunjung, menasehati raja hingga kalaupun
harus berperang itu karena Rasul lebih dahulu terdzolimi.
Tapi tidak demikian dengan onflik Yahudi dan Nasrani kala
itu. Dua kekuatan saling menyerang (baca : mempertahankan diri). Hingga
akhirnya, pada akhir konflik tersebut Abraha diangkat menjadi raja Yaman yang
sebelumnya dipimpin oleh Dzu Nawas yang beragama Yahudi. Peperangan ini
dipimpin oleh an Najasyi dari Ethopia yang mendapatkan perintah dari Heraklius
(Romawi) yang beragama Nasrani.
Ada satu fakta penting dari sejarah “perang” yang
dicptakan oleh Abraha. Yaitu adanya metode militeristik yang digunakan saat
seseorang atau lembaga atau negara ingin menguasai pihak lain. Hal ini
merupakan TABIAT orang yang berkuasa. Kekuatan militer dalam banyak kasus
merupakan tempat persembunyian yang sangat comfortable untuk negara atau pihak
yang berkuasa. Ingatlah bagaimana negara ini dulu saat berhadapan dengan
Belanda, Jepang, Inggris, dsb. Hanya karena kuat secara militer lah
negara-negara itu berani maju menjajah Indonesia.
Dekalarasi Kekuasaan Allah Dalam Al Fiil
Pada ayat pertama surat Al Fiil, Allah langsung bertanya
dengan ,”Alam taro kaifa fa’alaa rabbuka bi ashhaabil fiil…?!
Kalimat tanya ini dibuka dengan “Tidakkah engkau melihat”.
Kalimat tanya yang bermakna penegasan (istifham). Sesudah itu Allah berkata,
“kaefa fa’alaa rabbuka, bagaimana tuhan bertindak? Bi ashhaabil fiil, terhadap tentara atau pasukan gajah?
Inilah deklarasi kekuasaan itu!
Sebyek pada peristiwa ini adalah Tuhan. Disinilah
ketegasan kekuasaan Allah dipaparkan. Allah menegaskan bahwa Ka’bah tidak butuh
orang Arab sebagai penjaga. Pelindung Ka’bah bukanlah orang Arab. Jadi benar
apa kata Abdul Muthalib saat Abraha datang hendak menyerang Ka’bah. Abdul
Muthalib berkata, “Ka’bah punya Tuhan sendiri dan Dia pula yang akan melindungi
Ka’bah”.
Ayat selanjutnya, alam yaj’al kaidahum fii tahdlil ?
bukankah Dia telah menunjukkan tipu daya mereka (untuk menghacurkan Ka’bah) itu
sia-sia ? Wa makaru wa makarallah, innallaha khairul maakirin. Allah itu adalah
pemilik makar terbaik. Inipun merupakan deklarasi kekuasaan tunggal Allah. Kata
sia-sia bermakna tidak berarti apa-apa, tidak berguna (useless). Jadi meskipun
pasukan gajah yang dibawa lebih besar dari pasukan gajah Abraha, Allah pun
tidak akan pernah kalah.
Kemudian untuk menegaskan kekuasaanNya maka dikatakanlah
“wa arsalna ‘alaihim thoiron abaabil. Tarmihim bi hijaratim min sijjil. Fa
ja’alahum ka ashfim ma’kul. Dan Dia mengirim kepada mereka burung yang
berbondong-bondong.
Yang melempari mereka dengan batu yang berasa dari tanah
yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)
Disinilah penegasan itu. Setelah mendeklarasikan maka
Allah mendukung dengan kekuatan. Bahwa Allah bukan sekedar memiliki kuasa tapi
juga memiliki kekuatan hukuman. Sijjil adalah batu yang berasal dari tanah yang
terbakar. Batu tersebut dibawa oleh burung yang menimpakan pada pasukan Abraha.
Hingga yang terjadi adalah pasukan itu mati dengan sangat menakutkan. Bahkan
ini adalah kematian paling menakutkan sepanjang zaman. Jika pada film “The
Mummy”, para petualang gua mati karena di”santap” rayap hingga tak bersisa dan
langsung menemui ajal, maka Allah menskenario lain kematian pasukan Abraha.
Allah –dengan perantara burung-burungd an sijjil- mematikan mereka dengan lebih
dulu melelehkan tubuh mereka yang kemudian terputus satu-satu dari tempatnya.
Bahkan Abraha belum juga menemui ajal saat sampai Sam, ibu kota Yaman.
Pelajaran (Dari) Abraha
Ada beberapa hal yang sama dari kisah Abraha dengan
Indonesia kita. Abraha yang grusa grusu dengan keputusannya menyerang Ka’bah
padahal sebelumnya Abdul Muthalib sudah menegaskan bahwa Ka’bah telah dijaga
oleh Tuhannya sendiri. Jadi jika Abraha menyerang Ka’bah itu berarti dia
menyerang Tuhan. Jelas hancurlah Abraha! Dan di Indonesia, sejak lahir kita
sudah disodori dengan sinkretisme ideologi. Kapitalis, sosialis, komunis hingga
demokrasi. Meski mungkin beberapa ideologi tidak terdeklarasikan seperti
demokrasi, tapi sejarah mencatat bahwa Indonesia pernah memakai
ideologi-ideologi tersebut. Dan sering kali hal tersebut diputuskan dengan
grusa grusu. Hal ini juga terlihat pada proses pengambilan utang dari IMF,
import beras, Lapindo, pengadilan korupsi, dll. Meskipun pada tataran retorika
semua sudah dibicarakan secara “sempurna”, maka tetap saja kebijakan-kebijakan
tersebuat hanya kerap kali membuat keadaan makin runyam.
Belum lagi tentang militer. Mungkin Indonesia belajar
(atau lebih tepatnya ikut-ikutan) dari negara yang merasa besar. Ada anggapan bahwa
militer dapat dengan tepat menyelesaikan masalah. Jika pagadaian bisa dengan
bangga membuat slogan menyelesaikan masalah tanpa masalah, maka para decision
maker Indonesia kerap kali menyelesaikan masalah dengan masalah. Sebagai sample
case dari proses militerisasi adalah kasus-kasus di Ambon, Poso, Aceh, Timika,
dsb. Allahu a’lam.
Yang terakhir adalah tentang kondisi paradoks atas
kehancuran Abraha dan pasukan gajahnya. Abraha dan pasukannya hancur melalui
burung-burng dan sijjil (batu yang terbakar). Dan semua mati! Secara logika,
bagaimana mungkin gajah bisa mati melawan burung dan batu? Bahkan dengan
kondisi kematian yang paling memilukan ? Inilah kondisi paradoks yang
diperlihatkan Allah. Seperti kisah raja Namrud yang menemui ajal “hanya” karena
seekor nyamuk yang memasuki hidungnya.
Pertanyaannya, apakah Indonesia akan seperti itu juga?
Hancur karena atau oleh kekuatan kecil yang diluar dugaan. Jika kekuatakan
kecil tersebut adalah sebuah kekuatan yang beratas nama kebenaran, keadilan dan
kesejahteraan mungkin sejak sekarang legalah Indonesia. Namun jika ternyata
kekutatan itu berasal dari sisa-sisa kebencian maupun balas dendam? Maka
Indonesia pun harus bersiap dengan semua itu. Karena sejarah pun telah
mencatat, bahwa Indonesia pernah melewati masa-masanya dengan munculnya
pemberontakan PKI dan sebagainya. Padahal saat itu Indonesia telah berdiri
dengan kemerdekaannya. Globalisasi, milinium, megapolitan, dan sebagainya yang
dijadikan proyek peradaban oleh Indonesia bisa jadi akan menjadi sebuah jalan
mudah untuk masuknya banyak hal yang bersifat mengancam kekokohan Indonesia





Tidak ada komentar:
Posting Komentar