Rabu, 05 Oktober 2016

SURAT AL FIL

Alam taro kaifa fa’alaa rabbuka bi ashhaabil fiil
Alam yaj’al kaidahum fii tahdlil ?
Wa arsalna ‘alaihim thoiron abaabil.
Tarmihim bi hijaratim min sijjil.
Fa ja’alahum ka ashfim ma’kul.






1

 

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?
2

 

Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Kabah) itu sia-sia?,
3

 

Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong,
4


Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,
5


lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

Hari itu, Abrahah berniat menyerang Ka’bah dan hari itu pulalah Abraha sedang memberikan pelajaran besar pada manusia. Kisah Abraha dan gajah-gajahnya diabadikan secara utuh dalam surat al Fiil. Inilah kisah satu-satunya pendeta yang paling fenomenal dalam sejarah. Kisah Abraha banyak memberi transformasi nilai kekuasaan dan penegasan yang dibangun oleh Abraha sebagai penguasa dan penegas kekuasaan sebenarnya, Allah swt.


Kisah Abraha ini sebenarnya berasal dari konflik yang terbangun Nasrani dan Yahudi. Konflik ini bisa dikatakan murni sebagai konflik agama karena yang mendasari adalah sebuah ekspansi religi. Meski dalam pelaksanaan ekspansi tersebut lebih menggunakan cara militeristik daripada cara yang lebih humanis. Rasul Muhammad memang melakukan ekspansi besar-besaran saat menyebarkan Islam, tetapi Rasul lebih dulu mengawali ekspansi dengan cara-cara humanis semisal mengirim surat, berkunjung, menasehati raja hingga kalaupun harus berperang itu karena Rasul lebih dahulu terdzolimi.


Tapi tidak demikian dengan onflik Yahudi dan Nasrani kala itu. Dua kekuatan saling menyerang (baca : mempertahankan diri). Hingga akhirnya, pada akhir konflik tersebut Abraha diangkat menjadi raja Yaman yang sebelumnya dipimpin oleh Dzu Nawas yang beragama Yahudi. Peperangan ini dipimpin oleh an Najasyi dari Ethopia yang mendapatkan perintah dari Heraklius (Romawi) yang beragama Nasrani.


Ada satu fakta penting dari sejarah “perang” yang dicptakan oleh Abraha. Yaitu adanya metode militeristik yang digunakan saat seseorang atau lembaga atau negara ingin menguasai pihak lain. Hal ini merupakan TABIAT orang yang berkuasa. Kekuatan militer dalam banyak kasus merupakan tempat persembunyian yang sangat comfortable untuk negara atau pihak yang berkuasa. Ingatlah bagaimana negara ini dulu saat berhadapan dengan Belanda, Jepang, Inggris, dsb. Hanya karena kuat secara militer lah negara-negara itu berani maju menjajah Indonesia.


Dekalarasi Kekuasaan Allah Dalam Al Fiil


Pada ayat pertama surat Al Fiil, Allah langsung bertanya dengan ,”Alam taro kaifa fa’alaa rabbuka bi ashhaabil fiil…?!


Kalimat tanya ini dibuka dengan “Tidakkah engkau melihat”. Kalimat tanya yang bermakna penegasan (istifham). Sesudah itu Allah berkata, “kaefa fa’alaa rabbuka, bagaimana tuhan bertindak? Bi ashhaabil fiil,  terhadap tentara atau pasukan gajah?


Inilah deklarasi kekuasaan itu!

Sebyek pada peristiwa ini adalah Tuhan. Disinilah ketegasan kekuasaan Allah dipaparkan. Allah menegaskan bahwa Ka’bah tidak butuh orang Arab sebagai penjaga. Pelindung Ka’bah bukanlah orang Arab. Jadi benar apa kata Abdul Muthalib saat Abraha datang hendak menyerang Ka’bah. Abdul Muthalib berkata, “Ka’bah punya Tuhan sendiri dan Dia pula yang akan melindungi Ka’bah”.


Ayat selanjutnya, alam yaj’al kaidahum fii tahdlil ? bukankah Dia telah menunjukkan tipu daya mereka (untuk menghacurkan Ka’bah) itu sia-sia ? Wa makaru wa makarallah, innallaha khairul maakirin. Allah itu adalah pemilik makar terbaik. Inipun merupakan deklarasi kekuasaan tunggal Allah. Kata sia-sia bermakna tidak berarti apa-apa, tidak berguna (useless). Jadi meskipun pasukan gajah yang dibawa lebih besar dari pasukan gajah Abraha, Allah pun tidak akan pernah kalah.


Kemudian untuk menegaskan kekuasaanNya maka dikatakanlah “wa arsalna ‘alaihim thoiron abaabil. Tarmihim bi hijaratim min sijjil. Fa ja’alahum ka ashfim ma’kul. Dan Dia mengirim kepada mereka burung yang berbondong-bondong.


Yang melempari mereka dengan batu yang berasa dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)


Disinilah penegasan itu. Setelah mendeklarasikan maka Allah mendukung dengan kekuatan. Bahwa Allah bukan sekedar memiliki kuasa tapi juga memiliki kekuatan hukuman. Sijjil adalah batu yang berasal dari tanah yang terbakar. Batu tersebut dibawa oleh burung yang menimpakan pada pasukan Abraha. Hingga yang terjadi adalah pasukan itu mati dengan sangat menakutkan. Bahkan ini adalah kematian paling menakutkan sepanjang zaman. Jika pada film “The Mummy”, para petualang gua mati karena di”santap” rayap hingga tak bersisa dan langsung menemui ajal, maka Allah menskenario lain kematian pasukan Abraha. Allah –dengan perantara burung-burungd an sijjil- mematikan mereka dengan lebih dulu melelehkan tubuh mereka yang kemudian terputus satu-satu dari tempatnya. Bahkan Abraha belum juga menemui ajal saat sampai Sam, ibu kota Yaman.



Pelajaran (Dari) Abraha


Ada beberapa hal yang sama dari kisah Abraha dengan Indonesia kita. Abraha yang grusa grusu dengan keputusannya menyerang Ka’bah padahal sebelumnya Abdul Muthalib sudah menegaskan bahwa Ka’bah telah dijaga oleh Tuhannya sendiri. Jadi jika Abraha menyerang Ka’bah itu berarti dia menyerang Tuhan. Jelas hancurlah Abraha! Dan di Indonesia, sejak lahir kita sudah disodori dengan sinkretisme ideologi. Kapitalis, sosialis, komunis hingga demokrasi. Meski mungkin beberapa ideologi tidak terdeklarasikan seperti demokrasi, tapi sejarah mencatat bahwa Indonesia pernah memakai ideologi-ideologi tersebut. Dan sering kali hal tersebut diputuskan dengan grusa grusu. Hal ini juga terlihat pada proses pengambilan utang dari IMF, import beras, Lapindo, pengadilan korupsi, dll. Meskipun pada tataran retorika semua sudah dibicarakan secara “sempurna”, maka tetap saja kebijakan-kebijakan tersebuat hanya kerap kali membuat keadaan makin runyam.


Belum lagi tentang militer. Mungkin Indonesia belajar (atau lebih tepatnya ikut-ikutan) dari negara yang merasa besar. Ada anggapan bahwa militer dapat dengan tepat menyelesaikan masalah. Jika pagadaian bisa dengan bangga membuat slogan menyelesaikan masalah tanpa masalah, maka para decision maker Indonesia kerap kali menyelesaikan masalah dengan masalah. Sebagai sample case dari proses militerisasi adalah kasus-kasus di Ambon, Poso, Aceh, Timika, dsb. Allahu a’lam.


Yang terakhir adalah tentang kondisi paradoks atas kehancuran Abraha dan pasukan gajahnya. Abraha dan pasukannya hancur melalui burung-burng dan sijjil (batu yang terbakar). Dan semua mati! Secara logika, bagaimana mungkin gajah bisa mati melawan burung dan batu? Bahkan dengan kondisi kematian yang paling memilukan ? Inilah kondisi paradoks yang diperlihatkan Allah. Seperti kisah raja Namrud yang menemui ajal “hanya” karena seekor nyamuk yang memasuki hidungnya.



Pertanyaannya, apakah Indonesia akan seperti itu juga? Hancur karena atau oleh kekuatan kecil yang diluar dugaan. Jika kekuatakan kecil tersebut adalah sebuah kekuatan yang beratas nama kebenaran, keadilan dan kesejahteraan mungkin sejak sekarang legalah Indonesia. Namun jika ternyata kekutatan itu berasal dari sisa-sisa kebencian maupun balas dendam? Maka Indonesia pun harus bersiap dengan semua itu. Karena sejarah pun telah mencatat, bahwa Indonesia pernah melewati masa-masanya dengan munculnya pemberontakan PKI dan sebagainya. Padahal saat itu Indonesia telah berdiri dengan kemerdekaannya. Globalisasi, milinium, megapolitan, dan sebagainya yang dijadikan proyek peradaban oleh Indonesia bisa jadi akan menjadi sebuah jalan mudah untuk masuknya banyak hal yang bersifat mengancam kekokohan Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar